@Ubegebe1: “Media Sosial itu Soal Momen dan Konten”

Gaya ngetwitnya memang agak nyebelin, datar. Ngga pernah pake emo-emo. Pemilik akun @Ubegebe1 memang sok misterius, melarang penulis menyebutkan nama aslinya. Ubegebe sendiri berasal dari UBGB, kependekan dari Urang Bagak Gilo Baladiang, yang dalam bahasa Minang berarti “orang gila bawa parang”. Mengaku memakai akun @ubegebe1 karena akun @ubegebe sudah direbut user lain. Pria asal Sijunjung, Sumatera Barat, ini memang suka berlagak gila saat ngetwit. Lihat saja jawabannya ketika ditanya kenapa suka ngetwit.

“Saya tertarik ngetwit buat mengubah dunia terutama kawasan sub sahara. Kadang juga untuk memprogandakan sebuah seks yang sakral. Seks berdasarkan keinginan sadar dua orang yang menginginkan. Seks sebagai dorongan sel abu-abu. Bukan seks karena duit, karir atau nilai yang bagus. Saya juga berharap bertwitter sebagai bagian amar ma’ruf nahi munkar. Bisa dilihat twit-twit gue di jam 2 atau 3 dini hari, gue sering menganjurkan untuk tahajud,” celoteh alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Mengaku lebih nyaman ngomel-ngomel di Twitter daripada di Facebook, @Ubegebe1 memang terkesan nyolot dan sotoy. Tapi justru itu yang disuka orang. Gayanya mirip bapak-bapak nyinyir, semua hal dikomentari. Mulai dari judi online, Muhammad Yamin dan Pancasila, alien hibrid, Tesla, sampai bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Yang terakhir ini menarik, sebab tidak banyak dibahas orang.

“Saya pernah tinggal di pinggir lintas Sumatera. Melihat bus lewat sungguh menyenangkan. Belum tampang sopir jaman dulu sangar-sangar. Kumisan. Otot lengan gede-gede, karena jaman dulu belum ada power steering. Jaman dulu juga, sopir bus dianggap orang yang punya pengetahuan dan pengalaman lebih, karena tahu banyak kota dan budaya di luar lingkungannya. Karena itu, sopir jarak jauh menjadi sosok yang otoritatif,” begitu jawabannya saat ditanya kenapa hobi ngetwit soal bus AKAP. Yang nyamber twitnya lumayan, baik yang nyela dan antusias. “Sekarang-sekarang ini, kalo ada update bus dan karoseri, gue sering dimention. Artinya sudah ada yang memberi apresiasi positif. Apalagi Om Bumen Bekti,” ujarnya.

Topik lain yang sering dikicaukan @ubegebe1 adalah Federasi Sumatera Raya (FSR), yang menurutnya adalah sebuah gagasan luhur untuk mewujudkan sebuah republik federasi berdaulat di sumatera. FSR adalah jawaban kompleksitas NKRI. Sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur anti Yaminisme. Jangan heran kalau di timeline si buya satu ini sering ditermukan jargon “Bubarkan NKRI” atau “NKRI mati gaya”.

Menurut pria yang suka ngamuk-ngamuk saat nyetir mobil ini, akun Twitter yang keren itu yang suka marah-marah. Bicara agak serius soal media sosial, @Ubegebe berpendapat Twitter bisa menggiring opini publik.

“Intinya, media sosial itu soal moment dan konten. Kalo momen dapet dan kontennya juga oke, bisa aja menggiring opini. Masalahnya kita jarang menemukan situasi yang ideal seperti ini. Ini kalo di pertandingan bola, adalah seperti MU dikalahkan MK Dons 0-4. Peluangnya ada, tapi kecil sekali. Saking kecil peluangnya, bandar biasanya memberikan nilai taruhan yang besar untuk hasil skor seperti ini,” papar pria yang nama aslinya berinisial YF ini.

Sejauh ini, di mata @ubegebe1, belum ada akun Twitter yang sukses di Indonesia ini. Sebab pada akhirnya, orang-orang di Twitter akan tahu pola pemikiran seseorang terhadap sebuah isu baru cuma berdasar historis tweet kita. Mengidolakan akun @FahriHamzah, buya @ubegebe1 sering anggap angin lalu ke orang-orang yang ngga suka sama twitnya. Rumus yang ini bisa kita adopsi, terutama buat yang sering dinyinyirin dan di-bully di media sosial. Gimana, twips?

Related Posts