@UniLubis: “Banyak yang Belajar Demokrasi di Twitter”

unilubisUni Lubis. Nama yang agak membingungkan sebagian orang. Apakah dia seorang uni asal Minang? Tapi kok diikuti marga Lubis? Inilah keunikan seorang Uni Lubis yang bernama lengkap Zulfiani Lubis. Dari sini jelas kan, bahwa “Uni” di sini adalah kependekan dari Zulfiani. Maklum, di Twitterland ada selebtwit lain yang juga populer disapa “uni”.

Sepak terjangnya sebagai jurnalis selama 25 tahun membuat Uni Lubis begitu “gape” dengan beragam isu terkini. Ini juga yang membuatnya digandrungi netizen, hingga akun @UniLubis memiliki 104 ribu follower. Setelah cukup lama di ANTV, Uni juga aktif di Viva.Co.Id, dan kini menjabat sebagai managing director Rappler Indonesia.

“Karena wartawan harus mengikuti perkembangan kebutuhan audiens, maka menjadi multimedia journalist itu enak.  Berbekal telpon seluler saya sudah meliput Konperensi G-20 di Toronto, APEC CEO Summit  2013 di Vladivostok.  Cukup rekam gambar 2 menit, lalu kirim melalui email. Buat  naskah pendek yang bisa untuk keperluan online maupun televisi.  Modifikasinya sedikit.  Segera sampai ke audiens,” ungkap Uni yang akun Twitter-nya sudah terverivikasi ini. Dia membandingkan dengan pengalaman meliput sebelum era 2009. Harus bawa laptop untuk edit gambar, melakukan live report saja harus booking satelit space di APTN office di setiap negara.

Menurut Uni, menjadi jurnalis TV maupun media online punya keasyikan sendiri-sendiri.  Menggabungkan kedua pengalaman menjadi sebuah produk jurnalistik pasti lebih menyenangkan.

Uni yang aktif di Twitter sejak Oktober 2009 ini juga punya akun di Facebook, Path dan Instagram. Awalnya Uni tak tertarik dengan Twitter atau Facebook, bahkan dua akun itupun dibuatkan sang suami. “Setelah enam bulan baru mulai kontinyu membuat status.  Kalau di Twitter, jadi semangat karena bertemu teman-teman lama saatmasih reporter, seperti @nukman dan @budionodarsono.  Merasa ada teman ngobrol,” ungkap Uni. Di Instagram, Uni senang mengunggah foto jalan-jalan.

Apa manfaat media sosial bagi seorang jurnalis kawakan seperti Uni? “Di Twitter, saya memonitor percakapan, mencari ide tulisan, mendapatkan jejaring teman baru, mengawasi kerja dan memonitor keluhan atas produk,” jawab Uni. Waktu di ANTV, program TV banyak diprotes. Sejak di Rappler, Uni bisa memonitor breaking news di Twitter, sehingga Rappler bisa menjadi leading ketika terjadi tragedi Masjidil Haram dan tragedi Mina. Twitter juga berguna untuk mempromosikan produk, dalam hal ini konten jurnalistik dan blog.

“Banyak yang belajar demokrasi di Twitter.  Saya menikmati proses itu, dan menikmati bagaimana saya menjadi saksi proses demokratisasi itu.  Efeknya berbeda-beda kepada setiap individu,” Uni mengungkap manfaat Twitter.

Lebih jauh, Uni menyebut Twitter sebagai cheap tool of news gathering.  Tidak ada breaking news tanpa keterlibatan postingan Twitter dalam beberapa tahun terakhir. Uni pernah menuliskan pandangannya tentang Twitter dan jurnalistik di blognya.

Rappler Indonesia tergolong media yang habis-habisan memanfaatkan media sosial. Mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, Path, liveblogging, bahkan livestreaming.  Itu paket lengkap peliputan ala Rappler untuk peristiwa besar dan penting.

“Dalam memproduksi konten, Rappler berpijak pada kolaborasi antara: journalism, technology and crowdsourcing.  Kami tidak menyebut diri sebagai media online, melainkan social news sites.  Membangun percakapan dan menarik manfaat dari percakapan yang ada itu penting,” papar Uni.

Di Twitter banyak figur publik aktif, sehingga memudahkan wartawan menjangkau mereka.  Seringkali wartawan langsung menuliskan berita berdasarkan postingan Twitter figur publik, termasuk di dunia hiburan. “Twitter sebagai rolodex, kontak sumber.   Tapi juga harus hati-hati.  Verifikasi perlu, untuk mengetahui apakah konten itu benar diproduksi yang punya akun?  Itu akun memang punya yang bersangkutan?”

Uni beberapa kali membantu verifikasi akun.  Misalnya ketika muncul akun Abraham Samad, dia mengontak yang bersangkutan. Fixed bahwa itu akun palsu, sebab Samad tidak punya akun Twitter. Padahal media online terlanjur menulis berdasarkan akun itu.

Walau Twitter banyak berguna bagi dunia jurnalistik, tak bisa dibantah kerap pula Twitter bikin jurnalis jadi pemalas. Menikmati duduk di mana saja, sambil monitor Twitter dan mencomot untuk menjadi berita.  “Padahal, bagi wartawan, reporting is the heart of journalism.  Kunci.  Iya, bisa saja reporting via online.  Tapi, tak ada yang bisa menggantikan tatap-muka.  Dengan menatap langsung narasumber, melihat bahasa tubuhnya, kita akan tahu, apakah dia bicara jujur atau menyembunyikan sesuatu dari kita,” ujar Uni yang akunnya juga sempat dipalsukan ini.

Bagaimana suka duka di Twitter? Banyak sekali. Pernah @UniLubis mengomentari kicauan @tifsembiring dan jadi mendunia. “Itu waktu Pak Tif menyalami Michele Obama di Istana Negara, saat Presiden Barack Obama dan Michele ke sini.  Saya pas nonton siaran TV, lihat adegan salaman itu.  Spontan saya tweet, mention dia.  Kok sama Michele mau salaman? Biasanya nggak mau salaman sama perempuan?  Pak Tif membalas.  Ngeles.  Kata dia, yang menyorongkan tangan Bu Michele.  Lantas ada netizen yang upload video rekaman momen itu.  Media asing ramai memberitakan, bahkan dibahas di acara talkshow di AS.  Intinya, jawaban Pak Tifatul yang mengatakan bahwa Michele Obama yang menyodorkan tangan, itu politically incorrect, dan nggak pantas dalam diplomasi.  Habis itu Pak Tif nggak pernah mau balas mention saya di Twitter.  Mungkin trauma hahaha.  Tapi dia selalu balas sms dan angkat telpon.  Kami kenal baik kog.  Pak Tif orangnya secara personal baik,” papar Uni.

Pernah juga Uni di-bully massal, saat ikut liputan Gunung Merapi. Tidak tanggung-tanggung, bully terjadi seharian suntuk, dan yang mem-bully selebtweet selevel Butet Kertaredjasa.  Menurut Uni, di Twitter memang berlaku hukum bilangan besar.  Karena tidak bertatapan muka langsung, banyak yang ramai-ramai ikut  bullying.  Merasa berani dan bernyali.  Efek bola saljunya, karena dapat dukungan ramai, dianggap sebagai sebuah kebenaran. Orang-orang yang tergolong pintar melakukan hal serupa.  Padahal di kesempatan lain mereka ikut kampanye anti bullying.  Bahaya laten hastagh juga terjadi.

Uni punya pesan untuk netizen nih, terkait bagaimana mendapatkan informasi valid. “Follow akun beberapa wartawan yang jelas bekerja di media apa.  Mention mereka, tanyakan apakah info tertentu benar.  Minta mereka bantu verifikasi.  Saya juga sering melakukan itu ke narsum. Atau ke siapa yang saya pikir tahu.”

Ada akun @bdm2502 Pemred Kompas Budiman Tanuredjo, ada @ninuk_pambudy Wapemred Kompas.  Ada @nasihinmasha pemred Republika, @absusilo Pemred Bisnis Indonesia, @budionodarsono pendiri Detikcom, @suwarjono Pemred Suara.Com yang juga ketua AJI, ada @ilham_bintang Pemred Cek & Ricek.  Itu akun-akun teman yang @UniLubis tahu dan bisa jadi rujukan, bisa dimintai bantuan untuk verifikasi informasi.  Tentu banyak akun lain juga.

Wow, panjang dan detil sekali ya obrolan bersama Uni Lubis kali ini. Banyak ilmu yang didapat dari seorang Uni ini. Thanks, Uni, atas kesempatan mewawancarai Uni melalui email. Semoga makin bersinar ya karirnya sebagai jurnalis mulimedia!

Related Posts