@Vabyo: “Media Sosial Sebagai Tabungan Karya”

@vabyoIngin jadi penulis tapi justru sibuk twiteran? Vabyo membuktikan bahwa rajin ngetwit pun sebenarya “gejala” buat jadi penulis. Ini terbukti dari lahirnya buku “Kedai 1001 Mimpi” yang merupakan kumpulan tweetnya selama menjadi TKI di Arab Saudi. Penasaran dengan sosok yang bernama asli Valiant Budi Yogi ini? Saya berkesempatan ngobrol dengan @Vabyo melalui surat elektronik belum lama ini. Ternyata @vabyo kini sedang memulihkan diri, sebab Agustus tahun lalu sempat kena stroke hemoragik. “Kegiatan menulis sempat terbengkalai, karena bulan pertama post-stroke sering hilang ingatan dan jadi agak lambat,” ungkap pekerja kreatif freelance ini.

Lahir di Bandung, 13 Juni 1980, @Vabyo tergolong seniman kreatif serba bisa. Sejak SMP sudah menulis, disusul ngeblog saat SMA, dan buku pertamanya terbit 2007. Lalu aktif berkicau di Twitter 2010. Baik menulis, ngeblog, dan twiteran, sama-sama asik buat dia. “Tiga-tiganya mempunyai kenikmatan masing-masing. Tapi yang paling menantang sekaligus menarik adalah menulis buku, melibatkan banyak emosi, termasuk pergulatannya dalam penerimaan di kalangan pembaca,” @Vabyo mengaku.

Selain Kedai 1001 Mimpi, ada buku Kedai 1001 Mimpi, Joker, Ada Lelucon di Setiap Duka dan Bintang Bunting sudah ditelurkan @vabyo. Dari mana dia mendapat inspirasi menulis? “Dari respons panca indera. Melihat apa pun, mendengar apa pun, mencium apa pun, entah itu dari obrolan dengan orang asing, jogging keliling kompleks, juga termasuk media sosial. Intinya sih, baik di dunia nyata maupun maya, dekat-dekatlah dengan para inspirator,” papar @vabyo.

Media sosial diakui @Vabyo punya peran besar dalam berkarya. Selain menjual karya, media sosial juga jadi sekolah untuk menulis. Latihan bercerita, latihan berekspresi lewat kata-kata, latihan menerima puji dan kritik, begitu menurutnya. Bahkan media sosial membuat @vabyo bisa melibatkan pembaca dalam kelahiran sebuah karya. Seperti mengikutsertakan mereka untuk memilih cover buku atau bahkan jalan cerita.

Aktif di Instagram, Facebook dan Twitter, @vabyo saat ini sedang suka dengan Instagram. Dia sangat betah melihat foto-foto inspiratif. “Facebook juga kembali hangat karena dipenuhi artikel yang menarik. Tergantung dengan siapa yang kita follow dan berteman, sih. Tapi posting apa pun di mana pun, jatuh-jatuhnya Twitter-an juga,” kata pria yang juga pernah siaran di radio ini.

Di media sosial juga, @vabyo sering menemukan pembaca-pembaca unik, terutama setelah dia menerbitkan Kedai 1001 Mimpi. Ada yang penuh sayang, ada yang penuh benci.

Sebisa mungkin @vabyo menikmati semuanya, karena saling menyeimbangi. “Saat dikritik inget yang muji, saat dipuji inget yang kritik. Terkadang sangat menyenangkan saat lupa diri,” ujar @vabyo. “Tapi yang pasti harus selalu inget dengan suara hati saat menulis.”

Sebagai penulis, pastinya @vabyo pernah jadi korban plagiasi beberapa kali. Alasan mereka selalu sama, hanya kebetulan. “Yang membuat terbelalak, setelah ketahuan dan mengaku kebetulan, mereka malah cenderung menghinakarya saya. Untuk kasus ini, saya sudah posting tentang plagiasi di valiantbuddy.blogspot.com. Mari mampir!”

Dari semua karyanya, @vabyo mengaku buku yang paling “gue banget” adalah Kedai 1001 Mimpi dan Kedai 1002 Mimpi. “Karena itu buku nonfiksi, yang tentu saja ‘gue banget’. Tapi di beberapa buku fiksi pun selalu ada bagian yang ‘gue banget’. Yang mana saja? Rahasia!”

Ada pesan bagus nih buat kalian yang ingin jadi penulis tapi mengaku tak punya waktu menulis. “Kita bisa menggunakan media sosial sebagai tabungan karya. Waktu jadi TKI, saya sering curhat lewat twitter. Dua tahun kemudian, twit-twit saya kumpulkan dan jadi buku Kedai 1001 Mimpi,” pesan @vabyo. “Coba saja posting foto instagram dengan caption yang bercerita, sekalian berlatih mengolah kata. Selamat menabung kata!”

Wah berharga banget nih advis dari kak @vabyo. Semoga yang hobi banget berkicau di Twitter bisa mulai menabung kata untuk dijadikan karya yang lebih bermakna ya. Sukses sekali buat @vabyo dan kicauannya.

 

Related Posts