@ZaraZettiraZR: “Yang Demen Ngarang Hoax, Pasti Bayaran”

@zarazettirarDi era 1990-an, nama Zara Zettira ZR dikenal sebagai penulis cerpen dan novel remaja. Era 2000-an, Zara menggeluti penulisan skenario sinetron. Wanita berzodiak Leo ini memang sudah menulis sejak belia. Walau pernah jadi model, Zara tetap lebih menyukai dunia menulis.

Kini, melalui akun Twitter @ZaraZettiraZR, Zara justru populer di media sosial dengan kicauan kritis politiknya. Apa yang bikin dia menyukai isu politik? Dan apa Zara masih menulis? Politwika belum lama ini berkesempatan ngobrol dengan Mbak Zara melalui email. Berikut obrolannya…

Apa kesibukan mbak saat ini?

Saya sibuk mengurus publishing kecil, khusus biographi perorangan, tidak untuk komersil tapi untuk self healing atau write to heal. Intinya, saya belajar dari pengalaman hidup orang, saya mengamalkan ilmu pskologi saya untuk memberikan ketenangan pada yang punya masalah sehingga saat membaca biografinya sendiri orang itu bisa tertawa, memandang masalahnya dari luar — terasa lebih ringan.

Mbak sejak lama dikenal sebagai penulis buku, apakah saat ini masih menulis? Boleh tahu apa karya terakhir mbak?

Terakhir 2012 “Loe Gue End” tentang narkoba. Novel dan di-filmkan. Saya dari dulu bukan penulis produktif, dan tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Cita-cita dari kecil itu punya anak. Jadi ibu itu cita-cita saya yang alhamdulilah sudah tercapai.

Sekarang sudah menetap di Indonesia ya, mbak?

Sejak 1998 saya tidak di Indonesia. KTP masih Jakarta, masih WNI, tapi anak-anak semua ikut warga negara ayahnya akhirnya. Karena Indonesia belum membolehkan dwi kewargarganegaraan, jadi anak-anak yang sudah di atas 21 tahun haruss memilih, dan mereka memilih kewarganegaraan ayahnya. Suami saya WN Canada/Australia, mualaf dari belum nikah, sekarang di Brisbane. Anak-anak di Canada masih meneruskan sekolahnya, jd saya bolak-balik terus. Setahun kira-kira 3 bulan di Canada, 6 bulan di Aussie, 3 bulan di Indonesia.

Mbak terlihat aktif di Twitter. Selain Twitter, apa aktif juga di media sosial lain?

Facebook juga. Bagi saya yang jauh dari kawan dan saudara di tanah air, media sosial adalah penting untuk menjaga silaturahmi. Jadi bukan sekedar eksis-eksis, lho .

Sepertinya mbak aktif sekali di Twitter sejak masa kampanye Pilpres hingga sekarang. Dan tweet mbak mayoritas bertema politik. Apakah mbak punya interes juga di bidang politik? Atau memang ada pengalaman di dunia politik?

Kami lahir di keluarga politik, makanya tidak tertarik politik. Jika saya tertarik pasti saya sudah terima tawaran-tawaran yang dari dulu berdatangan, karena memang keluarga kami dulu ya di politik. Pengalaman yang saya punya adalah dari cerita-cerita langsung sesepuh politik sejak saya kecil. Saya paling suka dengerin cerita dan membaca . Sampai saat ini saya masih sering diajak ngobrol oleh beberapa pelaku politik Indonesia, sebagai orang “luar”. Mereka yang ada di “dalam” politik tidak bisa memandang ke “dalam” lagi karenanya butuh orang dari luar yang bisa melihat ke dalam tanpa bias atau kepentingan.

Menurut mbak, apakah media sosial bisa berperan besar dalam menggiring opini publik, khususnya politik?

Sangat besar, dan ini tidak bisa dihindari. Zaman sudah berubah. Akan tetapi sedihnya mengapa harus diisi tipu-tipu media sosial? Medianya boleh berubah tapi konten politik sebaiknya tidak berubah jadi propaganda macam jual produk, dong.

Sejak Pilpres 2015 sampai sekarang, situasi di media sosial terus memanas, terutama antara pendukung Prabowo dan Jokowi. Padahal Pilpres-nya sudah lewat. Menurut Mbak, apa yang membuat fenomena itu terus berlangsung?

Menurut saya pribadi, karena ada kecurangan di Pemilu lalu. Kedua karena ada bukti, realitanya tak ada janji Nawacita yang terealisasi malah bisa dibilang yang terjadi adalah sebaliknya? Dan hampir semua yang diungkapkan Bapak Prabowo saat debat Pilpres lalu pun kini terbukti. Saya pikir itu sebabnya. Karena untuk apa sih orang terus membela yang sudah kalah?

Adakah pengalaman tidak menyenangkan selama aktif di media sosial, terutama menyangkut tweet politik?

 Banyaklah, hahaha. Tapi biasa aja, ngga dibawa baper. Toh saya ngga cari makan di media sosial, dan ngga punya target tertentu. Saya suka aja membaca berita-berita yang seliweran di media sosial, sepertinya lebih akurat daripada yang ada di media-media mainstream. Jadi kalo mau tau yang sebenarnya justru harus rajin di media sosial.

Menurut mbak, ketika kita memosting suatu info, apakah perlu dicek dulu kebenarannya? Mengingat sejak Pilpres hingga sekarang sering beredar berita hoax yang menyesatkan netizen.

 Idealnya begitu etikanya. Tapi kita mau bilang apa? UU ITE juga belum sempurna, toh? Masa Polda suruh ngurusin media sosial? Di negara maju aja ngga mau aparat ngurusin hoax-hoax media. Kecuali jika yang bersangkutan (yang dirugikan) itu nuntut sendiri, maka baru jadi kasus. Ngga ada Polisi nangkep netizen karena postingannya deh, hanya di Indonesia.

Apa yang membuat mbak jadi aktif dengan topik politik di media sosial?

Karena ingin memberi semangat untuk menyuarakan kebenaran. Jangan cuek terhadap situasi bangsa dan negara. Jangan bicara hanya jika punya kepentingan tertentu atau karen dibayar. Saya ngga aktif-aktif amat, ah. Sehari paling 1-2 jam online. Suka efek snow ball-nya kali yang membuat kelihatannya aktif ya? Banyak di-RT.

Apakah mbak Zara ada rencana untuk menulis buku bertema politik juga?

 Ada dan sedang menulis. Tunggu tanggal mainnya. Doakan.

Ada pesan ngga mbak untuk para pengguna media sosial, khususnya anak muda, agar mereka tidak ikut menyebarkan berita hoax?

 Ngga ada. Karena toh mereka yang suka ngarang berita hoax akan kena batunya sendiri. Dan akan pertanggungjawabkan dosanya sendiri sama Tuhan. Juga konsekuensi hukuman netizen lain. Jadi biarkan saja. Ini menjadi sarana kebebasan berpendapat yang sebenar-benarnya.

Kalau bisa, dengarkan hati nurani, pandai-pandai menilai benar-salah. Dan yang terpenting jangan jual suara/harga diri untuk uang. Orang-orang bayaran itulah yang merusak manfaat kebebasan bersuara di media sosial. Juga hindari debat-debat, nyamber-nyamber twit orang. Masa debat di Twitter? Hehehe, yang bener aja. Twitter itu kicauan opini. RT bila setuju, itu etikanya. Kalo beda pendapat tinggal mute/block aja orang tersebut toh? Tapi ya itulah. Yang giat ngajak debat lalu nge-bully ya mereka yang dibayarlah pastinya. Kalo gak ada untungnya masa sih repot-repot kayak gitu nyari musuh. Mendingan nyari temen buat kopdar dong atau jualan online, hihihi.

Saya yakin, yang demen ngarang hoax, ngajak debat dan ribut itu pasti bayaran. Nah, yang kayak gini saya harap netizen juga bisa menilai. Dan yang kaya gini ngga perlu di-follow, apalagi dipercaya twitnya. Gampang toh milih info di Twitter sebenarnya?***

Related Posts